Tauhid dalam Hati : Antara Budaya dan Ketaatan Beragama

   1619207_10201079781310584_1531791267_nGedung teater besar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menjadi saksi lahirnya sebuah film yang berlatar belakang tentang budaya Jawa dan ketaatan seorang manusia terhadap agamanya Kamis (27/2). Film yang berjudul “Tauhid dalam Hati” ini adalah mahakarya dari pemuda Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA) yang secara mandiri membuat, memutar, dan memromosikan film karya mereka.

“Inilah film kami, film kami sebagai pemuda yang mandiri.” Kata sineas muda film Tauhid dalam Hati, Zen Al-Ansory dalam sambutan singkatnya, Jumat (28/2).

film-tdh-tauhid-dalam-hatiKisah dalam film ini bermula dari sebuah keluarga kecil dengan pak Joko sebagai kepala keluarga. Beliau memiliki seorang istri dan  dua  orang anak perempuan. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Dalam kehidupannya, pak Joko sangat memegang erat budaya  kejawen yang diturunkan oleh nenek moyangnya sedangkan bu Joko dan kedua anaknya sangat taat dengan ajaran Islam yang mereka terima dari siaran radio dakwah MTA.

            Sekian lama waktu berlalu, riak-riak kecil mulai muncul dalam keluarga ini. Pak Joko  mulai sebal dengan istrinya yang setiap hari menyetel radio dakwah tersebut dengan volume yang cukup kencang agar dapat terdengar dari dapur. Pak Joko pun tak mau kalah melantunkan  tembang-tembang jawa dengan suara keras, bersaing dengan suara sang ustad dalam radio.

            Puncak amarah pun menghinggapi hati pak Joko tatkala ia mendengarkan pernyataan rekan kerjanya tentang radio MTA yang didengarkan dan dituruti sang istri.

            “radio MTA itu to pak?” kata rekan kerja pak Joko

            “lho, kok tau kamu?” Tanya pak Joko

            “ya  tau lah pak, itu kan radio yang membawa perpecahan antar tetangga. Lha bagaimana ya pak, masak radio itu melarang selamatan dan kondangan. Hati-hati lo pak, jangan diikuti, itu radio sesat” ujar rekan kerja pak Joko panjang lebar.

            Setibanya di rumah, pak Joko pun segera menghampiri sang istri yang tengah memasak dengan masih mendengarkan radio MTA. Dalam amarahnya yang memuncak, pak Joko kemudian terlibat perang mulut dengan bu Joko dan berakhir dengan pembantingan radio oleh pak Joko. Setelah kejadian itu, rumah kecil pak Joko jadi seolah mati. Sepi tanpa ada lagi suara radio dakwah MTA yang sebelumnya selalu memenuhi rumah pak Joko.

            Karena kejadian itu, pak Joko pun mengayuh sepedanya menuju kota. Mencari penjelasan tentang radio yang tiap hari didengarkan sang istri juga kedua putrinya. Mencari  pencerahan  dengan menemui sang ustad (ahmad sukino). Dan ahirnya pak Joko  pun mendapat  hidayah setelah menerima nasehat dari sang ustad.

            Ketiadaan toleransi beragama sering kali menjadi sumber konflik di berbagai daerah. Dengan kondisi yang semacam inilah yang mendorong sineas muda Zen Al-Ansory untuk menyajikan sebuah potret kecil tentang toleransi beragama dari satu keluarga yang tinggal di perdesaan.

            Film ini memiliki akhir yang menggantung dan menimbulkan rasa penasaran bagi para penontonnya. Film dengan durasi 51 menit ini dikabarkan akan menjalani road show di beberapa daerah selain kota Solo. (Penulis Muda 234/Izzatun Nadia)

Social Share Toolbar

Abdul Wahid

Koordinator Forum Penulis Muda MTA ll Aktif di Pemuda MTA Perwakilan Karanganyar ll Freelancer journalism
Tulisan ditulis di Berita Umum. Bookmark permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *