Senam Bareng Pak Dahlan

Senam Bareng Pak DahlanSolo – Menteri Badan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (BUMN RI), Dahlan Iskan, bersilaturrahim dengan ribuan jamah pengajian ahad pagi Majlis Tafsir Al-Qur’an (Jihad Pagi MTA) pada, Ahad (20/4). Sebelum mengikuti acara Jihad Pagi Dahlan, Sapaan akrab Dahlan Iskan, telah menginap terlebih dahulu di gedung pengajian MTA pusat, Jalan Ronggowarsito, 111A, Surakarta. Selain itu, Dahlan juga mengajak pemuda MTA untuk melakukan senam pagi bersama di depan gedung pengajian tersebut.

Pada pengajian kali ini Dahlan diberi kesempatan oleh pimpinan pusat MTA, Drs. Ahmad Sukina, untuk memberikan tausyiah dihadapan ribuan jamaah pengajian MTA.

“Selanjutnya kami haturkan kepada beliau untuk diteruskan pengajian pada siang hari ini.” Kata Sukina mempersilahkan Dahlan memberikan tausyiah.

Di awal tausyiahnya Dahlan memuji semangat pemuda MTA yang ikut senam bersama dengannya. Di samping itu, ia juga menjelaskan bahwa orang yang membawa perbaikan itu pasti ada pertentangan dan hal itu adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan.

“Ternyata senamnya teman-teman di MTA lebih seru dari kebiasaan senam saya, jadi saya agak keteteran tadi.” Kata Dahlan disambut gelak tawa jamaah pengajian MTA.

Dalam kesempatan ini beliau mengungkapkan tentang perjalanan hidupnya yang berasal dari keluarga miskin yang tidak punya sepatu ketika ia sekolah sampai ia menjadi pemilik Jawa Pos, Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (Dirut PLN) dan sampai akhirnya menjadi Mentri BUMN. Berkaitan dengan hal itu, ia juga menjelaskan bahwa dahulu ia menolak tawaran presiden menjadi dirut PLN dengan alasan bahwa belum pernah ada dalam sejarah Republik Indonesia ini direktur utama PLN lulusan pesantren.

“Saya ini lulusan pesantren, masak lulusan pesantren menjadi direktur utama PLN”. Kata Dahlan dihadapan ribuan jamaah pengajian MTA.

Meski sekarang Dahlan Iskan telah menjadi seorang Mentri BUMN. Namun, dahulu ia pernah mengungkapkan bahwa ia sudah tidak memiliki keinginan lagi untuk mencari uang. Hal ini ia ceritakan bersama dengan kisahnya dalam menghadapi penyakit kanker hati yang hampir merenggut nyawanya.

“Saya hanya pengin menguryeus madrasah, pengin menulis buku, dan pengin menjadi gurunya wartawan yang tidak usah dibayar. Pokoknya tidak usah cari uang.” Ungkap Dahlan disambut tepuk tangan riuh jamaah pengajian MTA.

Di akhir tausyiahnya, Dahlan berpesan kepada seluruh jamaah pengajian MTA supaya memiliki tekad yang teguh dalam berusaha. Ia menjelaskan kalau kita mau pasti kita bisa. Karena yang dibutuhkan itu bukan bisa atau tidak bisa. Melainkan kemauan yang tinggilah yang akan mendapatkan hal yang dicitakannya.

“Kalau kemauannya 24 karat, pasti bisa!”. Kata Dahlan di penghujung tausyiahnya.

(Penulis Muda 234/Abdul Wahid)

Social Share Toolbar

Abdul Wahid

Koordinator Forum Penulis Muda MTA ll Aktif di Pemuda MTA Perwakilan Karanganyar ll Freelancer journalism
Tulisan ditulis di Berita Umum, Olahraga. Bookmark permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *