Waktu Beruntung vs Waktu Buntung

summary_f798a2427d8d9ab300c1975411fdbac8Oleh; Sutanto, M. Pd

(Ketua Pemuda Majlis Tafsir Al- Qur’an (MTA) Perwakilan Kabupaten Semarang)

 

Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian

Kehilangan waktu bisa membuat kita jauh dari Allah dan hari akhir

Sementara kematian membuat kita jauh dari kehidupan dunia dan penghuninya saja. (Ibnu al Qayim).

 

Keep moving guys!

Mari kita manfaatkan waktu kita!

 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadid/ 57: 12).

Sebenarnya waktu menjanjikan kebahagiaan dan kesuksesan hidup bagi setiap insan yang bisa dan mau mengatur, menjalani, menikmati dan mensyukurinya dengan baik. Tetapi sebaliknya waktu juga bisa mengancam setiap insan yang mengabaikannya, yakni ia tidak mengatur, tidak menjalani, tidak menikmati dan ia tidak pula mensyukurinya dengan baik sehingga ia tidak beruntung melainkan ia buntung (rugi).

Maka dari segi waktu itu pula sebenarnya manusia berada dalam kerugian, apalagi manusia tersebut tiada mempedulikan waktu. Sebagai contoh, ia dalam beribadah (shalat) tidak tepat waktu, dalam belajar ia menunda- nunda dan bahkan ia mengabaikan waktu belajar. Jika ia seorang pekerja ia tidak disiplin terhadap jam kerja dan lain sebagainya. Sebagai pengingat kita, bahwa jika seseorang tiada mempedulikan waktu maka ia benar- benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al ‘Ashr/ 103: 1 – 3).

Semangat surat Al- ‘Asr ini menjelaskan keharusan bagi setiap orang bahwa jika ia menginginkan selamat baik di dunia maupun di akhirat yaitu dengan jalan beriman dan beramal sholeh. Bahkan iman dan amal sholeh saja ternyata masih merugi, sebelum ia menyempurnakannnya dengan semangat saling memberi nasehat dan bersabar dalam mempertahankan iman, meningkatkan amal shaleh, menegakkan kebenaran dalam menjalankan kehidupannya.

Betapa pentingnya prinsip saling menasehati dalam ajaran Islam, maka setiap manusia pasti membutuhkannya, siapapun, kapanpun, dan di manapun ia hidup. Layaklah kalau dikatakan bahwa saling memberi nasihat adalah sebagai sebuah keniscayaan yang harus ada pada setiap muslim.

Namun sangatlah disayangkan jika ada di antara kita yang menganggap sepele soal nasehat ini. Atau merasa dirinya sudah cukup, sudah pintar, ataukah ia sudah berpengalaman? Sehingga ia tidak lagi butuh yang namanya nasehat dari orang lain?. Padahal, lo kita mau tahu bahwa dengan menerima nasehat dari orang lain pertanda adanya kejujuran, kerendahan hati, keterbukaan dan menunjukkan kelebihan pada orang tersebut, betul?.

Perlu kita ketahui pula bahwa Allah akan meninggikan derajat bagi orang- orang yang mau menerima nasehat- nasehat yang bersumber dari Allah dan rasul- Nya tetapi apabila kita cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah , dijelaskan Allah orang- orang tersebut seperti anjing, sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al- A’raaf/ 7: 176, yang artinya: Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

Disampaikan juga oleh nabi Shaleh kepada para umatnya yang diabadikan Allah SWT di dalam QS. Al A’ raaf/ 7: 79 yang artinya: “Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”

Dari QS. Al A’ raaf/ 7: 79 tersebut Allah menjelaskan bahwa manusia ada yang tidak menyukai orang- orang yang memberi nasehat. Sungguh setan akan menyesatkan bagi orang- orang yang berpaling dari nasehat, sebagaimana Allah SWT jelaskan di dalam QS. Az Zukhruf/ 43: 36 yang artinya: Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

Sungguh jelas bahwa bagi orang- orang yang berpaling dari nasehat (waktu dll), maka ia buntung (rugi) tetapi sebaliknya bagi orang- orang yang menerima nasehat ia bisa berlaku jujur, rendah hati, terbuka, bisa menunjukkan kelebihan pada orang tersebut dan ia beriman maka beruntunglah orang- orang tersebut. Adapun diantara ciri- ciri orang beriman yang akan menempati surga firdaus dijelaskan Allah di dalam QS. Al Mukminun/ 1 – 11 yang artinya:

  1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman
  2. (yaitu) orang-orang yang khusyu´ dalam sembahyangnya
  3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna
  4. dan orang-orang yang menunaikan zakat
  5. dan orang-orang yang menjaga kemaluannya
  6. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela
  7. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas
  8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya
  9. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya
  10. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi
  11. (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

 

Betapa pentingnya kita mengatur, menjalani, menikmati dan mensyukuri waktu. Untuk itu mari kita manfaatkan waktu dengan baik, yakni sesuai dengan pekerjaan kita masing- masing dan janganlah waktu yang memanfaatkan kita karena kita akan rugi dibuatnya. Sebagaimana Imam Asy Syafi’i rahimahullah berpesan kepada kita: “waktu bagaikan pedang, jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Untuk itu mari kita sibukkan hari- hari kita dengan kebaikan, karena dengannya kita akan terjauh pada perkara yang sia-sia. Masih dari Imam Asy Syafi’I, beliau berkata: “Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”

Semoga kita termasuk orang- orang yang bisa mengatur, menjalani, menikmati dan mensyukuri atas waktu sehingga kita beruntung atas waktu dan bukanlah sebaliknya yakni buntung (rugi) atas waktu. Aamien.

[Korektor: FPM2 Abdul Wahid]

Social Share Toolbar

Abdul Wahid

Koordinator Forum Penulis Muda MTA ll Aktif di Pemuda MTA Perwakilan Karanganyar ll Freelancer journalism
Tulisan ditulis di Opini, Rubrik. Bookmark permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *