KARANGANYAR – Pemuda Majlis Tafsir Al-Qur'an (MTA) Perwakilan Karanganyar menggelar Kajian Samara (Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah) sebagai langkah nyata membekali generasi muda dalam menghadapi fase pranikah dan kehidupan berkeluarga. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat di Aula Gedung Majlis Perwakilan Karanganyar (MPK) pada Sabtu (25/04/2026).
Kajian yang dihadiri oleh sekitar seribu peserta ini menyasar remaja putra dan putri serta pemuda/i MTA mulai usia SMA hingga 45 tahun yang berdomisili di Kabupaten Karanganyar. Selain sebagai sarana pembinaan, acara ini juga menjadi media dakwah untuk mempererat ukhuwah Islamiyah antar pemuda di seluruh cabang se-Kabupaten Karanganyar.
Membentuk Karakter dan Kesiapan Mental
Ketua Panitia, Taufik Nur Rohman, menyampaikan bahwa tujuan utama dari kajian ini adalah untuk membentuk pribadi pemuda yang berakhlakul karimah serta matang secara mental dan spiritual.
"Kegiatan ini diselenggarakan untuk membekali pemuda dan pemudi MTA dengan pemahaman Islam dalam menghadapi fase pranikah hingga berumah tangga. Kami ingin mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan siap membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah berlandaskan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah," ujarnya.
Selain itu, panitia juga menekankan pentingnya kesadaran akan kesehatan mental dalam hubungan keluarga guna menciptakan keharmonisan di masa depan.
Memilih Pasangan Berdasarkan Agama
Hadir sebagai pemateri, Ustadz Muhammad Ghozali, S.Pd.I. dari Tim Serasi Indonesia (MTA Pusat), memberikan pesan mendalam mengenai kriteria memilih pasangan hidup. Beliau menegaskan bahwa sebagai seorang muslim, aspek fisik dan materi bukanlah standar utama.
"Memilih pasangan tidak sekadar karena cantik atau kaya. Sebagai muslim, hendaknya kita tidak hanya melihat kecantikan, kekayaan, atau keturunan semata, namun harus lebih mengutamakan ilmu dan akhlak yang dilandasi nilai-nilai agama," tegas Ustadz Ghozali di hadapan ribuan peserta.
Berjalan Interaktif dan Berkelanjutan
Kajian berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Suasana interaktif terlihat saat sesi tanya jawab, di mana banyak pemuda yang berkonsultasi mengenai persiapan menuju jenjang pernikahan sesuai syariat Islam.
Menariknya, kajian ini bukanlah agenda sekali jalan. Pihak panitia menyatakan bahwa kegiatan ini akan berlanjut ke seri atau bagian berikutnya (part selanjutnya) untuk memberikan pendalaman materi yang lebih komprehensif bagi para pemuda.
Dengan adanya pembinaan berkelanjutan seperti ini, diharapkan generasi muda MTA memiliki pondasi agama yang kokoh dalam membina rumah tangga, sehingga mampu melahirkan generasi penerus yang berkualitas bagi agama dan bangsa.